KARAWANG | INFOKEADILAN.COM | Masyarakat Karawang keluhkan lonjakan harga beras yang terjadi saat ini. Mestinya, harga beras harus stabil dan terjangkau oleh masyarakat. Kondisi ini, menimbulkan kekhawatiran warga karena kenaikan harga beras tersebut.
Selain menjerit, masyarakat juga mengeluhkan tidak mampu untuk membeli beras. Hal itu diungkapkan Kepala Desa Mulyajaya, Endang Macan Kumbang. Ia mengatakan, bagaimana dengan tindakan pemerintah agar harga terjangkau oleh masyarakat.
Bukanya Karawang dijuluki lumbung padi, mestinya harga beras harus stabil yang seharusnya terjangkau oleh masyarakat di harga maksimum Rp. 8.000 atau Rp 9.000 per Liter, dan itu juga beras yang Rp. 8.000 atau Rp 9.000 per Liter, dan itu juga beras yang sudah bagus,” ungkapnya, Senin (4/9/2023).
Lebih lanjut Endang mengatakan, pihak Bulog jangan tinggal diam dibelakang meja, seharusnya melakukan survei atas lonjakan harga beras yang terjadi di pasar.
“Kalau bisa ya, Bulog jangan tinggal diam dibelakang meja. Tolong survei ke pasar atau masyarakat, untuk mencari solusi bagaimana caranya harga beras tidak melonjak tinggi seperti ini,” Tandasnya
Menurutnya, kenaikan harga beras di Desa Mulyajaya merupakan suatu keanehan serta tidak masuk akal. Karena di Desa Mulyajaya, panen raya telah usai
Yang tidak masuk akal itu, panen raya sudah selesai tapi harga beras tinggi, kan aneh. Ini adalah suatu keanehan ketika di Desa Mulyajaya panen, harga berasnya malah mahal. Misalnya, Rp. 11.000 per Liter, berarti kalau per kilo diatas Rp. 14.000, dan masyarakat beli, dimana uang nya,” tegasnya.
Endang berharap, Pemerintah Daerah (Pemda) bisa mengkaji ulang, untuk bagaimana cara menurunkan harga beras agar bisa dijangkau oleh masyarakat kecil.
Saya pribadi selaku Kepala Desa Mulyajaya, Pemda Karawang jangan tinggal diam terutama instansi yang berkepentingan dengan masalah pangan. Tolong turunlah jangan duduk dibelakang kursi saja. Mau makan apa mereka kalau harga beras disekitaran Rp. 11.000 atau Rp. 12.000 per liter,” pungkasnya.
(Red)