KARAWANG |infokeadilan.com — Tangis haru menyelimuti rumah sederhana keluarga Komarudin di Desa Pakisjaya, Karawang Utara. Momen penuh emosi itu pecah setelah sang anak sulung, Muhammad Faizul Arham (15), berdiri gagah di podium juara, menyabet medali emas cabang olahraga pencak silat pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) ke-VIII di Nusa Tenggara Barat.
“Dengar kabar dari grup Fornas, langsung gemetar. Kami sekeluarga menangis, bukan karena sedih, tapi terharu. Anak nelayan bisa sampai ke tingkat nasional,” Ucap Komarudin dengan suara bergetar saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Sabtu (2/8/2025).
Kemenangan Faizul tak hadir dalam sekejap. Di balik prestasi itu, tersimpan kisah perjuangan panjang dari sebuah keluarga pesisir yang hidup dalam kesederhanaan. Komarudin, seorang nelayan yang menyusuri laut sejak subuh demi menghidupi keluarga, dan sang istri, Supriyati, yang mengelola usaha fotokopi kecil di rumah, selalu menjadi tumpuan dan sumber kekuatan Faizul.
Sejak usia enam tahun, Faizul telah menekuni dunia pencak silat. Perjalanan awalnya tak mudah. Mereka harus bolak-balik menempuh jarak jauh dari Pakisjaya ke Lubang Buaya, Bekasi, demi menemani Faizul berlatih di salah satu perguruan silat.
“Kami bertiga naik motor, berangkat jam empat sore, kadang baru sampai rumah jam dua belas malam. Tapi demi Faizul, kami jalani,” Kenang Komarudin.
Setelah tiga tahun berlatih di Bekasi, alasan keamanan membuat keluarga memutuskan untuk memindahkan Faizul ke PS Gaya Murni di bawah asuhan Guru Besar Tamin Miharja, yang lebih dekat dengan tempat tinggal. Sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, Faizul terus mengasah kemampuannya, menghadapi jatuh bangun dalam latihan, tanpa pernah kehilangan semangat.
Kini, Faizul duduk di SMKN 1 Pakisjaya. Ia sudah pernah mengikuti berbagai kejuaraan tingkat daerah di Karawang, Bekasi, hingga Bogor. Meski belum pernah menyabet juara pertama, ia selalu pulang membawa penghargaan. Hingga akhirnya, jerih payah itu terbayar lunas dengan medali emas di ajang nasional.
“Buat saya, bukan soal medali. Ini tentang harapan dan pembuktian bahwa anak pesisir pun bisa berbicara di kancah nasional. Mimpi tak harus mahal, yang penting keluarga tetap jadi tempat pulang dan sumber semangat,” tutur Komarudin.
Faizul membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Di tengah segala kesederhanaan, ia tumbuh menjadi sosok tangguh dengan semangat juang tinggi.
“Yang penting tetap jaga etika, rendah hati, dan jangan lupa asal-usul,” Pesan sang ayah dengan penuh makna.
•Red

