Ditemukan Ikan Mati Mendadak di Saluran Irigasi, DLH Imbau Warga Jangan Konsumsi, Pemeriksaan dan Pengambilan Sampel Sedang Berlangsung

KARAWANG |Infokeadilan.com – Warga masyarakat yang berdomisili di wilayah Kecamatan Karawang Barat, khususnya di sekitar aliran saluran irigasi KW 3, KW 4, dan KW 5, menerima imbauan penting dan serius untuk tidak mengambil maupun mengonsumsi ikan-ikan yang ditemukan mati mendadak di perairan tersebut. Peringatan ini disampaikan menyusul ditemukannya sejumlah ikan yang mati secara tidak wajar di sepanjang aliran irigasi yang melintasi kawasan Jalan Jaka Tingkir, Kelurahan Tunggakjati, pada Selasa (2/6/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian ini pertama kali diketahui dan dilaporkan oleh warga sekitar pada pagi hari sekitar pukul 07.19 WIB. Kabar ini pun dengan cepat menyebar melalui unggahan dan pesan peringatan di kalangan masyarakat, yang mengingatkan agar warga menjauhi ikan-ikan yang mati tersebut demi menghindari risiko gangguan kesehatan yang mungkin timbul, mengingat belum diketahui secara pasti penyebab dan kondisi air di lokasi.

Merespons kejadian yang mengundang kekhawatiran publik ini, Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera menurunkan tim teknis ke lokasi kejadian. Langkah cepat ini diambil guna melakukan pengecekan langsung, pemantauan kondisi lingkungan, serta pengambilan sampel air untuk kemudian diuji di laboratorium, agar dapat diketahui akar penyebab pasti dari fenomena kematian massal ikan tersebut.

Luki Mantera Dwi Putra Romly, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan DLH Kabupaten Karawang, memberikan penjelasan rinci mengenai kronologi, hasil pemeriksaan awal, serta langkah tindak lanjut yang sedang dan akan dilakukan pihaknya. Menurut penuturannya, informasi awal mengenai kejadian ini justru sudah masuk ke pihaknya sejak malam hari sebelumnya.

“Info kejadian tersebut, info dari warga itu masuk sekitar jam 22.00 WIB malam, konon informasinya dari wilayah Leuweung Seureuh. Nah, makanya tadi pagi kita sudah langsung bergerak bersama dengan tim dan Satgas Citarum Harum ke sana untuk mengecek langsung menggunakan alat PH meter. Dan hasil pengukuran dari PH meter itu dinyatakan normal berada di angka 6. Tapi untuk pembuktian secara menyeluruh, tadi saya sudah arahkan tim juga untuk mengambil sampel airnya guna dilakukan uji laboratorium lingkungan, agar diketahui hasilnya secara lengkap parameter apa saja yang mungkin melebihi baku mutu yang ditetapkan,” jelas Luki di lokasi.

Ia menambahkan, persoalan ini tidak bisa dilihat sebelah mata karena indikasi penyebabnya bisa berasal dari berbagai sumber. Bahkan, informasi yang berkembang menunjukkan bahwa fenomena serupa juga terdeteksi di wilayah lain yang menjadi satu aliran sungai yang sama.

“Karena banyak dugaan dan indikasi juga, limbah itu bisa berasal dari mana saja, makanya tim kita itu sekarang masih berada di lapangan dan bergerak terus sampai ke arah Walahar. Ada informasi juga bahwa di wilayah Jatiluhur pun ditemukan ikan mati, makanya saya juga tadi berkomunikasi dengan rekan-rekan di kabupaten pengawasan wilayah Purwakarta untuk menanyakan kebenaran info itu, dan mereka pun mengatakan akan mengecek dulu ke lokasi,” imbuhnya.

Mengenai dugaan penyebab, beredar informasi sementara yang menyebutkan bahwa kematian ikan diduga kuat dipicu oleh tingginya kandungan zat amoniak di air, yang diduga berasal dari sisa pakan ikan. Namun hal tersebut belum bisa dijadikan kesimpulan akhir sebelum ada bukti sah dari hasil uji laboratorium.

“Menurut dari informasi yang beredar, katanya ikan-ikan yang mati tersebut karena kandungan amoniak, yaitu sisa dari pakan-pakan ikan. Tetapi tetap, intinya hal itu belum bisa dikatakan valid ya gitu. Karena masih ada hal-hal yang belum ditelusuri semuanya, jadi belum bisa dipastikan penyebab kematian ikan tersebut karena apa secara pasti,” tegasnya.

Oleh sebab itu, sampai kebenaran dan penyebab utama terungkap jelas, pihak Dinas Lingkungan Hidup kembali menegaskan himbauan tegasnya kepada seluruh warga masyarakat.

“Terkait dengan kejadian itu, kami berikan himbauan juga kepada warga agar jangan mengonsumsi ikan yang mati itu, karena khawatir berdampak buruk kepada kesehatan tubuh kita. Apalagi hasil pemeriksaan laboratorium ini kan belum bisa keluar saat ini, jadi kami khawatir di dalam air maupun tubuh ikan itu ada zat-zat berbahaya yang tidak terlihat mata namun membahayakan jika dikonsumsi,” pungkas Luki Mantera Dwi Putra Romly.

Kejadian ini menjadi perhatian serius mengingat dampaknya yang erat kaitannya dengan kelestarian ekosistem perairan, kualitas lingkungan hidup, serta keamanan pangan dan kesehatan masyarakat luas. Warga diharapkan tetap tenang namun waspada, dan menunggu hasil resmi dari pemerintah sebelum mengambil langkah apa pun terkait ikan-ikan yang mati tersebut.

 

•M.Rifai/Red

Bagikan Artikel

BERITA LAINNYA

PEMERINTAHAN

POLITIK

- Advertisement -spot_img

KRIMINAL

BERITA PILIHAN

HUKUM

POLRI