KARAWANG | Infokeadilan.com – Rencana pembenahan dan normalisasi saluran kali Apur yang telah lama diharapkan warga hingga kini masih sebatas wacana dan janji yang belum kunjung terealisasi. Kondisi ini memicu kekecewaan dan keresahan masyarakat, mengingat saluran air tersebut semakin dangkal dan sering menjadi penyebab banjir setiap kali curah hujan turun dengan deras, tepatnya di saluran air kali Apur yang membentang mulai dari wilayah Tanjung Mekar Kecamatan Karawang Barat hingga perbatasan wilayah Kecamatan Rengasdengklok.
Hal ini terungkap dari unggahan yang beredar di akun media sosial Facebook Info Tunggakjati yang menyuarakan keprihatinan warga terkait nasib saluran air yang menjadi urat nadi pengairan dan pengendalian banjir di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang berkembang, rencana perbaikan ini sebenarnya telah disampaikan dan dibicarakan berkali-kali di hadapan masyarakat, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda pelaksanaan yang nyata di lapangan.
“Entah sudah berapa kali masyarakat mendengar rencana normalisasi saluran Apur. Entah sudah berapa kali pula harapan itu dibangun. Namun hingga hari ini, yang terlihat masih sama, saluran tetap dangkal, aliran air tetap terhambat, dan warga tetap dihantui kekhawatiran saat hujan turun,” tulis unggahan tersebut, Jum’at (5/6/2026).
Ketidakpastian pelaksanaan program ini pun memunculkan pertanyaan besar di benak masyarakat. Publik mulai meragukan apakah pembenahan saluran Apur benar-benar menjadi prioritas pembangunan, atau hanya sekadar materi pembicaraan yang ramai diungkapkan saat kunjungan kerja atau kegiatan sosial, namun kemudian menghilang begitu saja tanpa ada tindak lanjut yang jelas.
“Yang menjadi pertanyaan, apakah program ini benar-benar menjadi prioritas atau hanya sekadar bahan pencitraan yang ramai saat dibicarakan lalu hilang tanpa kabar?” demikian isi tulisan yang mencerminkan keraguan publik terhadap keseriusan pihak berwenang.
Masyarakat pun menegaskan bahwa saat ini yang dibutuhkan bukan lagi janji-janji baru atau pernyataan manis yang tidak berujung pada hasil, melainkan langkah konkret dan pekerjaan nyata yang dapat dilihat dan dirasakan manfaatnya secara langsung. Pasalnya, permasalahan banjir dan genangan air yang kerap terjadi tidak dapat diselesaikan hanya dengan rapat, foto kegiatan, atau kata-kata yang menenangkan, melainkan memerlukan upaya pembenahan fisik yang menyeluruh dan serius.
“Masyarakat tidak membutuhkan janji baru. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata. Sebab banjir dan genangan tidak bisa diatasi dengan rapat, foto kegiatan, atau kata-kata manis. Yang dibutuhkan adalah pekerjaan yang benar-benar terlaksana di lapangan,” tegas isi unggahan tersebut.
Masyarakat juga meminta kepada para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pihak terkait, untuk bersikap terbuka dan transparan. Apabila terdapat kendala teknis maupun keterbatasan anggaran yang menjadi alasan keterlambatan, hal tersebut sebaiknya disampaikan secara jujur dan jelas kepada publik, agar ketidakpastian tidak terus berlanjut dan masyarakat tidak menunggu dalam ketidaktahuan yang melelahkan.
“Jika memang ada kendala, sampaikan secara terbuka. Jika memang belum ada anggaran, jelaskan kepada masyarakat. Transparansi jauh lebih terhormat daripada membiarkan warga terus menunggu tanpa kepastian,” bunyi pesan yang disampaikan warga.
Warga pun menegaskan kekhawatirannya, jangan sampai kondisi saluran Apur yang semakin rusak dan dangkal ini menjadi simbol dari lemahnya perhatian terhadap kebutuhan mendasar masyarakat. Kepercayaan publik, menurut mereka, tidak hilang karena satu kali kegagalan semata, melainkan karena ketidakjelasan informasi dan rendahnya komitmen untuk memenuhi apa yang telah berulang kali dijanjikan kepada warga.
“Jangan sampai saluran Apur yang semakin dangkal menjadi simbol betapa dangkalnya perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. Sebab kepercayaan publik tidak hilang karena kegagalan semata, tetapi karena ketidakjelasan dan minimnya komitmen untuk menepati apa yang sudah dijanjikan,” tulis warga dalam pesan diunggahnya
Sebagai penutup, masyarakat menegaskan bahwa tuntutan ini bukanlah permintaan hal istimewa atau keistimewaan tertentu, melainkan hak dasar yang layak diperjuangkan dan ditagih, karena hal tersebut merupakan apa yang telah dijanjikan berkali-kali oleh pihak yang berwenang.
“Warga tidak sedang meminta keistimewaan. Warga hanya menagih apa yang sudah berkali-kali dijanjikan!!” tegas warga dalam unggahannya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak maupun instansi terkait mengenai kepastian waktu pelaksanaan dan alasan penundaan pembenahan saluran Apur tersebut. Warga pun masih menanti langkah nyata demi kenyamanan mereka di masa mendatang.***
Sumber: Media Sosial Facebook Grup Info Tunggakjati)

