KARAWANG |infokeadilan.com – Atung dan Adul kisah kakak dan adik bersama ibunya yang menjadi korban kekejaman penjajah kini abadi di Monumen Rawagede Karawang.
Pelukan terakhir Atung dan Adul jadi saksi sejarah bangsa. Dua remaja kakak beradik, hanya bisa saling berpelukan bersama ibunya. Mereka bukan tentara, bukan pula pemberontak. Mereka hanyalah anak-anak desa Rawagede yang tak sempat lari dari teror pasukan Belanda kala itu.
Kisah yang diceritakan oleh narasumber Sukarman selaku ketua yayasan Rawagede yang dikutip dari berita okezone.com saat diwawancara mengungkapkan, hari itu, tepatnya tanggal 9 Desember 1947, menjadi hari paling kelam dalam sejarah desa kecil di Karawang ini.
Ratusan pria sipil ditembak mati secara brutal oleh tentara Belanda karena dianggap menyembunyikan gerilyawan. Adul dan Atung kakak beradik ini termasuk di antaranya.
Saat jasad mereka ditemukan di tepi sungai, tubuh keduanya masih saling berangkulan. Mungkin karena takut dan mungkin karena tak ingin mati sendirian atau mungkin karena di pelukan satu sama lain, mereka menemukan sedikit rasa aman di tengah kekejaman yang tak masuk akal.
Kini, puluhan tahun setelah tragedi itu, pelukan terakhir mereka diabadikan dalam sebuah patung berwarna emas di Monumen Rawagede. Patung itu berdiri tak jauh dari tempat mereka ditemukan, menjadi simbol kasih yang tak tergoyahkan, bahkan oleh peluru penjajah.
Kisah Adul dan Atung memberikan tanda bahwa kemerdekaan bangsa ini bukan hanya dibayar dengan darah para pejuang, tapi juga dengan nyawa anak-anak yang bahkan belum sempat memahami arti kata “perang”.
Kisah ini diceritakan oleh narasumber Ketua Yayasan Rawagede Bapak Sukarman dalam hasil wawancara berita okezone.com 27 November 2016.***

