Pemilihan Kepala Daerah Menolak Kotak Kosong

BANJARMASIN KALSEL |Infokeadilan.com  – Kabarnya, dugaan ada satu kabupaten di Kalsel dimana sebagian besar partai, hanya mengusung satu pasangan calon. Besar kemungkinan calon yang diusung tersebut akan melawan kotak kosong. Dua partai yang ditinggal, bukannya tidak mau mendukung calon bersangkutan, tapi tidak diinginkan bergabung dalam koalisi partai pendukung, Jum’at (19/7/2024).

Dikatakan Norholis Majid, Menurutnya, dua partai yang tidak di inginkan tersebut mesti tersinggung dan berani melawan koalisi besar agar tidak terjadi drama kotak kosong.

“Dua partai yang tidak di inginkan harusnya tersinggung dan berani melawan koalisi besar, agar tidak terjadi drama kotak kosong. Peluang bagi kedua partai yang di tinggal berkoalisi, sehingga ada alternatif, dan tidak sekedar melawan kehampaan.” Ucapnya.

“Lalu, apa makna kotak kosong dalam Pilkada ? Secara tersurat artinya, sebagian besar partai hanya berani mengajukan dan mendukung calon yang dianggapnya berpeluang menang. Sedangkan calon lainnya dianggap tidak mungkin menang, sehingga tidak diperlukan ada.” Ungkapnya.

Lebih jauh Norholis Majid menjelaskan tentang polemik adanya kabar miring terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tersebut.

“Secara tersirat memberikan pelajaran bahwa partai gagal dalam pengkaderan politik. Sehingga tidak mampu menyuguhkan alternatif calon pemimpin potensial untuk dipilih dalam Pilkada.” Terangnya.

“Selain itu, hal tersebut juga menggambarkan pragmatisme partai politik. Sebab hanya berani berkoalisi dengan calon yang dianggap memiliki sumber daya.” Tandasnya.

“Di kabupaten yang penduduknya begitu banyak, yang Sumber Daya Manusianya cukup bersaing dengan kabupaten lain, mustahil tidak ada satu pun pasangan calon yang lebih berkualitas, lebih mumpuni, bahkan lebih berintegritas, namun kenapa tidak ada satu pun yang berani mengajukan diri melawan bertarung di Pilkada.” Paparnya menegaskan.

“Kotak kosong itu bukan saja potret arogansi, tapi juga gambaran ketakutan. Betapa sialnya warga pemilih, bila partai tidak mampu memberikan suguhan alternatif yang mencerdaskan demokrasi.” Timpalnya.

“Untuk apa ada keragaman partai-partai yang berbeda visi, misi, program dan sumber daya, bila saat Pilkada semua memilih cara aman masuk dalam satu keranjang oligarki.” Ungkapnya lagi menandaskan.

“Bila akhirnya benar kotak kosong jadi kenyataan, saya akan mendukung kotak kosong tersebut, sebab mendukung kotak kosong berarti melawan arogansi oligarki.” Tutupnya.

 

 

•HN/Nm

Bagikan Artikel

BERITA LAINNYA

PEMERINTAHAN

POLITIK

- Advertisement -spot_img

KRIMINAL

BERITA PILIHAN

HUKUM

POLRI