BANJARMASIN, Infokeadilan.com – Di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, sebuah kekuatan besar bangkit dari Asrama Haji Kelas I Banjarmasin. Bukan kekuatan alat berat, melainkan kekuatan doa, Senin (26/10/2026).
Lebih dari 5.000 santri bersama para ulama, kiai, dan keluarga besar Kementerian Agama memanjatkan doa bersama agar Bumi Lambung Mangkurat senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari bencana karhutla.
Doa yang khidmat dan menggetarkan itu menjadi puncak dari Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan yang digelar melalui upacara akbar di Asrama Haji Kelas I Banjarmasin.
Kegiatan tersebut diikuti santri dan pegawai Kemenag dari tiga daerah, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar.
Peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema nasional “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Tema ini menegaskan bahwa peran santri tidak hanya di bilik pesantren, tetapi juga di jantung pembangunan bangsa, melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta keteladanan akhlak mulia.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, H. Muhammad Tambrin, dalam amanatnya mengatakan, Hari Santri adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan.
“Jika dahulu santri berjuang dengan bambu runcing mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini perjuangan santri adalah berjuang meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menguasai ilmu pengetahuan, dan mengabdi kepada masyarakat. Santri harus menjadi penguat negeri,” ujar Tambrin.
Suasana haru menyelimuti Asrama Haji ketika Tambrin mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala dan memanjatkan doa khusus.
Ia mengajak seluruh masyarakat Kalsel untuk terus berdoa agar Banua tetap aman, kondusif, dan dijauhkan dari berbagai bencana, khususnya karhutla yang dapat mengganggu aktivitas dan keselamatan warga.
Tak hanya itu, doa juga secara khusus ditujukan bagi para petugas dan relawan yang saat ini tengah berjibaku di lapangan.
“Di lapangan, saudara-saudara kita dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat sedang berjuang memadamkan api. Mari kita doakan mereka diberikan kekuatan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dalam menjalankan misi kemanusiaan,” ajaknya.
Ribuan tangan menengadah. Gemuruh kata amin menggema, menggetarkan Asrama Haji. Sebuah pemandangan yang menjadi simbol bahwa penanganan karhutla membutuhkan sinergi dan gotong royong seluruh elemen bangsa.
Dukungan moril dari para ulama dan santri ini menjadi energi besar di tengah perjuangan memadamkan api dan mengendalikan dampak karhutla di Kalsel.
Lebih dari sekadar seremoni, semangat Hari Santri juga diharapkan menjadi penggerak kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya karhutla.
Tambrin menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan, di antaranya Polda Kalimantan Selatan, para pimpinan pondok pesantren se-Kalsel, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
“Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini, kita berharap para santri terus mengambil peran dalam menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Doa santri adalah harapan bagi Banua,” pungkasnya.
Di tengah tantangan bencana yang dihadapi, doa para ulama dan ribuan santri yang menggema dari Asrama Haji Banjarmasin menjadi simbol harapan, bahwa Kalimantan Selatan akan senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari bencana, dan dianugerahi kekuatan bagi seluruh pihak yang berjuang menjaga bumi Lambung Mangkurat tercinta.
•Han

