KARAWANG |Infokeadilan.com – Di tengah gemerlap pembangunan dan berbagai program yang sering digaungkan, realitas pahit masih dialami oleh para pelajar di Kecamatan Cibuaya. Perjalanan mereka menuju gerbang sekolah bukan sekadar rutinitas biasa, melainkan sebuah perjuangan keras yang layak disandingkan dengan tantangan ekstrem, demi satu tujuan mulia yakni menuntut ilmu.
Kondisi jalan tersebut berlokasi di Kampung Dobolan, Dusun Tanjungsari, RT 001/003, Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang. Anak-anak seolah harus melewati “uji nyali” sebelum duduk manis di bangku kelas. Mereka terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu rakit seadanya dan perjalanan menyusuri jalanan berlumpur yang kondisinya jauh lebih pantas disebut jalur off-road daripada akses menuju tempat pendidikan.
Bagi mereka, setiap langkah di jalan tersebut sarat risiko. Jika salah melangkah, konsekuensinya bukan hanya terlambat sampai di sekolah, tetapi bisa membahayakan keselamatan diri sendiri.
Ironisnya, kondisi yang memprihatinkan ini seolah belum cukup menyentuh hati para pemangku kebijakan. Entah karena dianggap hal yang biasa, atau memang perhatian belum sampai menyentuh akar masalah.
Padahal, keinginan mereka sangatlah sederhana dan mendasar, yang mereka butuhkan hanyalah jalan yang layak dilalui, akses yang aman, serta sedikit rasa kepedulian nyata dari pihak terkait.
“Kalau untuk sekolah saja harus sekuat ini, mungkin yang perlu diperbaiki bukan semangat anak-anaknya, tapi arah perhatiannya,” ungkap salah satu warga yang merasa miris akan kondisi tersebut saat diminta tanggapan oleh awak media.
Kondisi ini menjadi semakin ironis dan memunculkan pertanyaan besar kepada peran Pemerintah Desa setempat yang diduga seolah membiarkan keadaan ini berlanjut.
Berdasarkan informasi yang didapat anggaran bantuan untuk desa diketahui selalu dialokasikan secara menyeluruh. Namun, di lapangan menunjukkan hal berbeda, terlihat masih ada infrastruktur yang sangat mendesak untuk segera diperbaiki justru terbengkalai.
Hal ini memicu pertanyaan mendasar. Ke mana sebenarnya anggaran tersebut disalurkan dan digunakan ? Mengapa masih ada wilayah yang tertinggal jauh dalam hal aksesibilitas ?
Menanggapi hal itu, guna mendapatkan penjelasan yang akurat awak media coba mengkonfirmasi Kepala Desa Sedari Bisri Mustofa.
Menurut dia, terkait dengan akses jalan terputus tersebut diakibatkan banjir rob beberapa waktu lalu. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang berlumpur itu merupakan jalan tanggul empang yang memang saat ini sedang di koordinasikan dengan pihak pihak terkait.
“Itumah di tanggul empang kang. Coba alamatnya dimana. Semua akses warga sudah menjadi kewajiban Pemdes untuk menangani, baik secara langsung ataupun diusulkan ke Pemerintah Daerah ataupun lewat Pokir Dewan, hanya harus bersabar sedikit.” Ujarnya, Minggu (5/3/2026).
Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa pihak telah mengusulkan melalui program jalan produksi, namun diwilayah Sedari terkendala status kehutanan.
“Sudah di usulkan lewat program jalan produksi, tapi untuk Sedari terkendala dari status lahan kehutanan. Dan pihak kami sudah berkoordinasi dengan pihak kehutanan untuk bagi bagi tanggungjawab. Kalau jalan tanggul empang Sedari mah banyak bangat.” Ungkapnya memaparkan.
“Itu akan di kerjakan tahun ini. Sepanjang desa mampu siap di kerjakan. Kita selalu berupaya sesuai kemampuan dan boleh tanya pa kadusnya. Memang Dobolan Salam satu dusun yang terkena abrasi, kita semaksimal mungkin melakukan upaya dan sampai saat ini masih terus berusaha. Capek ngettiknya ah.” Terangnya seraya lelah menjawab pertanyaan media.
“Sami sami kang hatur nuhun tos mengingatkan semoga tahun ini bisa diselesaikan 🙏.” Pungkasnya.
Masyarakat berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, melalui dinas terkait, dapat segera mengambil langkah konkret, sistematis, dan tegas. Perbaikan infrastruktur harus segera dilakukan sebagai wujud nyata pelayanan negara demi masa depan generasi penerus bangsa yang layak mendapatkan akses pendidikan yang aman dan bermartabat.
•Tim Infokeadilan.com

