KARAWANG |infokeadilan.com – Ditengah pemerataan pembangunan di segala aspek yang dilaksanakan Pemkab Karawang saat ini ternyata masih menyisakan keprihatinan. Program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) menjadi Rumah Layak Huni (Rulahu) belum dirasakan manfaatnya oleh keluarga Saepudin.
Rumah milik Saepudin bersama Maryati yang berlikasi di Dusun karajan RT 020/04 desa Kemiri Kecamatan Jayakerta sangat memprihatinkan setelah di hantam angin puting beliung setahun yang lalu. Kini Saepudin bersama keluarganya tinggal di bagian ruangan yang kondisinya masih utuh, karena sebagian ruangannya hancur.
Bahkan, kini mereka tidak memiliki ruang khusus untuk memasak akibat ruang dapurnya telah roboh. Selain itu, mereka kerap mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih lantaran tidak memiliki sumur dan jamban.
Dan sampai saat ini karena keterbatasan biaya, Saepudin belum bisa memperbaiki rumahnya yang porak poranda dilibas angin puting beliung beberapa waktu lalu. Saepudin kini hanya bisa berharap ada uluran tangan pihak pemerintah maupun dermawan yang bisa membantu dirinya.
“Kalau listrik sudah ada, tapi kalau air untuk keperluan mandi dan lain lain kami harus numpang di tetangga,” Ungkap Saepudin kepada media, Minggu, (13/7/2025).

Ia mengungkapkan keinginannya untuk memperbaiki rumah yang sebagian besar telah rapuh tersebut ada. Namun, terkendala biaya karena penghasilan tidak menentu dan hanya cukup untuk sehari hari saja.
“Ya ingin sekali memperbaiki rumah, tapi kami sadar diri dengan kondisi ekonomi. Kerja keras kami pun hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah anak saja pak.” Ujarnya dengan nada bercampur kesedihan dan maya berkaca kaca.
Menurut Saepudin, rasa kekhawatiran rumahnya roboh sering muncul, terlebih saat hujan lebat atau angin kencang. Kondisi bagian belakang rumah yang juga difungsikan sebagai kamar anaknya terlihat memprihatinkan. Sebagian dinding harus ditambal karena telah rusak.
“Saya sering kasihan sama anak, kalau malam sering kedinginan dan bocor kalau hujan. Ingin ganti atap semua sampai belakang tapi belum bisa, maklum pak karena penghasilan saya kan hanya cukup buat sehari hari saja.” Keluhnya.
Harapan untuk memperbaiki rumah lewat bantuan bedah rumah pemerintah memang ada. Sejak sekitar dua bulan lalu, keluarganya telah diusulkan oleh pihak Pemerintah Desa Kemiri untuk mendapatkan bantuan. Namun, hingga kini belum tahu kapan program tersebut direalisasikan.
“Inginnya ya diperbaiki segera karena takut roboh juga kalau terlalu lama,” Harapnya.
Saepudin juga mengaku, selama ini telah mendapatkan perhatian pemerintah dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dan KIP untuk kedua anaknya yang masih bersekolah di SMP. Namun, dua sumber bantuan tersebut hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak
“Saya tetap berjuang pak, gak mungkin juga harus terus menerus menggantungkan ke orang lain, tapi misal ada uluran tangan dari para dermawan saya berterimakasih bangat.” Pungkasnya.
•Red

